Showing posts with label WISATA SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label WISATA SEJARAH. Show all posts

Pilihan Utama Menunggu Buka Puasa di Purworejo

Pilihan Utama Menunggu Buka Puasa di Purworejo
(Purworejo Ngabuburit 2016)


Bulan Ramadan di Purworejo tahun ini jadi lebih istimewa. Ada sebuah event khusus yang diadakan setiap sore guna mengisi waktu menunggu buka puasa bagi warga Purworejo.

Adalah Purworejo Ngabuburit 2016, sebuah event menunggu buka puasa yang diadakan di alun-alun bagian utara, depan pendopo kabupaten Purworejo. Ini dari event ini adalah pasar takjil dan bazar Ramadan. Acara ini selain untuk mengisi waktu menunggu buka puasa juga guna memberdayakan UKM yang ada di Purworejo. Mulai dari UKM produsen makanan dan jajanan, hingga UKM yang memproduksi souvenir khas Purworejo.

Acara ini digawangi oleh Paguyuban Pedagang Car Free Day (CFD) “GANESHA”, tentu saja dengan dukungan penuh dari Kantor Kesbangpol Purworejo dan Perusahaan Daerah Aneka Usaha (PDAU) Purworejo. Serta disponsori oleh berbagai instansi yang ada di Purworejo.
















Selain sebagai ajang pasar takjil dan bazar Ramadan, juga disediakan bermacam hiburan warga pada hari-hari tertentu. Tercatat sudah beberapa grup kesenian, musik, dan komunitas yang datang untuk unjuk gigi dan menghibur warga yang berkunjung.

Pada acara ini juga ada program berbagi takjil bagi anak yatim dan fakir miskin di sekitar warga Purworejo. Para donatur yang menyalurkan donasi untuk program berbagi takjil kemudian dibelanjakan pada UKM-UKM di Purworejo untuk kemudian disalurkan kepada panti asuhan atau fakir miskin di sekitar Purworejo.

Penyaluran Program Jum'at Berbagi Takjil untuk Panti Asuhan
Purworejo Ngabuburit ini akan diadakan terus diadakan setiap hari hingga akhir bulan Ramadan 1437 H (2016). Jangan lewatkan keseruan acara Purworejo Ngabuburit 2016. Ajak teman, sahabat, saudara, dan seluruh keluarga untuk menikmati menunggu buka puasa di Purworejo Ngabuburit.

Kaos Clorot; Lestarikan Tradisi, Kenalkan Budaya Purworejo

Kaos Clorot; Lestarikan Tradisi, Kenalkan Budaya Purworejo


Kaos Clorot Warna Putih
Clorot, jajanan kuno khas Purworejo kini kian sulit ditemui. Selain cara pembuatannya yang cukup rumit, juga tidak banyak yang melestarikan clorot sebagai jajanan.

Berangkat dari hal ini, juga demi mengenalkan produk budaya asli Purworejo, lahir lah sebuah ide untuk mengenalkan budaya Purworejo melalui media kaos.

Kaos CLOROT Purworejo hadir untuk mengenalkan Purworejo pada dunia. Menggugah orang Purworejo untuk bangga bisa mengenalkan segala tentang kampung halaman Purworejo.


Kaos Clorot Purworejo tersedia dengan 3 warna:
1. Putih
2. Hitam
3. Abu-abu
Ukuran S, M, L, XL (ukuran sesuai stok yang tersedia)

Cukup dengan harga Rp 60.000,- 

Untuk pemesanan silahkan hubungi:
BBM 51726959 / WA-SMS +6285700002296

Outlet: Kantor Taraveela, Jl. Let.jend. Suprapto no 30 Purworejo
(Belakang pasar Suronegaran, Kursus Bahasa Inggris ECC)

Outlet CFD Alun-alun Purworejo setiap Minggu pagi. Alun-alun bagian timur, seberang SD Maria.

Juga melayani pembelian untuk luar kota, harga belum termasuk ongkos kirim.

Juga melayani pemesanan desain kaos khas Purworejo dengan harga bersahabat.

Mari bangga mengenalkan Purworejo pada dunia!
Kaos Clorot Warna Hitam

Kaos Clorot Warna Abu-abu
Kaos Purworejo

Geger Menjangan, Pre Order
Baca juga:
Alun-alun Terluas di Jawa Tengah

Museum Gaman dan Pusaka

Museum Gaman Pusaka
Museum Tosan Aji diresmikan pada tanggal 13 April 1987 oleh Gubernur KDH Tingkat I Jawa tengah Bapak Ismail. Lokasi museum pada waktu itu terletak di Pendopo Kawedanan Kutoarjo. Pada tanggal 10 Juni 2001 oleh Pemerintah Kabupaten dipindah dari Kutoarjo ke kota Purworejo menempati bangunan bekas Pengadilan Negeri pada zaman Belanda, yaitu di jalan Mayjend Sutoyo No. 10 atau sebelah selatan alun-alun Purworejo. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya mewujudkan lokasi terpadu beberapa bangunan bersejarah, seperti Masjid Agung Darul Mutaqin di sebelah barat alun-alun dengan Bedug Pendowonya terbesar di Indonesia mungkin di dunia, dan Museum di sebelah selatan.

  

Museum Tosan Aji merupakan museum khusus yang menyajikan satu jenis koleksi yaitu Tosan Aji (keris). Tosan Aji merupakan salah satu hasil budaya bangsa sebagai warisan nenek moyang yang menunjukan salah satu identitas budaya bangsa. Suasana di museum ternyata didesain sedemikian rupa agar seakan-akan menikmati alam bersejarah kota Purworejo. Alat, bahan, dan keris yang sudah ada disajikan tepat di ruang paling depan, kita dapat pertama kali menikmati dan mengetahui proses pembuatan keris budaya leluhur bangsa.
Seiring perkembangannya, Museum Tosan Aji tidak hanya menyajikan koleksi Tosan Aji saja, namun juga menampilkan berbagai koleksi benda cagar budaya yang banyak ditemukan di wilayah purworejo, baik pada masa prasejarah maupun masa klasik. Koleksi cagar budaya menambah daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Disamping pengetahuan yang diperoleh ternyata ketakjuban juga dengan kekayaan alam yang dimiliki kota Purworejo.
Koleksi pusaka yang dimiliki lebih dari 1000 bilah terdiri dari keris, pedang, tombak, kujang/kudi, Cundrik Granggang yang berasal dari masa Kerajaan Pajajaran, Majapahit hingga sekarang, dan tersimpan pula benda-benda cagar budaya lainnya seperti Gamelan Kuno Kiyai Cokronegoro, hadiah dari Sri Susuhan Paku Bowono VI kepada Bupati Purworejo Pertama Cokronegoro serta arca, prasati, lingga, yoni, fragmen lumping, guci, beliung, batu gong, gerabah menhir, dan fosil. Dan yang terbaru adalah wajan raksasa yang ditemukan di daerah Kutoarjo dan sempat menjadi pemberitaan nasional.
------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak tentang wisata di karesidenan Kedu? Klik like Wisata Kedu!
Salam hangat dari tanah Kedu!


Baca juga:

Disarikan dari pelbagai sumber.
Photo by Google.

Candi yang Lebih Luas dari Borobudur

Candi yang Lebih Luas dari Borobudur

Banyak orang mengira dan bahwa Candi Borobudur adalah candi yang paling luas yang pernah di temukan di Indonesia. Tapi ternyata di Kabupaten Temanggung ada sebuah candi yang diperkirakan luasnya melebihi luas Candi Borobudur di kabupaten Magelang. 

Situs Liyangan ini berupa candi ukuran kecil yang terletak di kawasan penambangan pasir di lereng Gunung Sindoro tepatnya di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dari alun-alun temanggung kita hanya memerlukan waktu 45 menit untuk sampai ke tempat ini.

Candi ini ditemukan pada tahun 2008 dan hingga kini juga masih ditemukan juga benda-benda bersejarah lain. Yang pertama kali ditemukan di kawasan dengan ketinggian 1400 di atas permukaan air laut ini adalah sebuah talud, yoni, arca, dan batu-batu candi.

Diduga bahwa situs ini dahulu adalah sebuah dusun yang manjadi tempat tinggal masyarakat Mataram Kuno karena diantaranya ditemukan sisa-sisa bangunan berbahan kayu dan bambu.

Sayangnya arca-arca yang ditemukan tidak bisa kita lihat di lokasi karena benda-benda itu ditempatkan di rumah kepala dusun tersebut agar aman dan terhindar dari pencurian. Kemudian ditemukan lagi bangunan candi yang tinggal bagian kaki dan di atasnya terdapat yoni yang unik, yang tidak seperti pada umumnya, karena yoni ini memiliki tiga lubang, dan kaki candi ini menandakan bahwa candi ini berasal dari abad 9 Masehi.

Yang menjadi misteri dan sangat mengejutkan warga adalah temuan pada akhir Maret 2010 yaitu berupa rumah panggung dari kayu yang hangus terbakar dan masih tampak berdiri tegak. Satu unit rumah tersebut berdiri di atas talud dari batu putih setinggi 2,5 meter. Namun sekarang kayu sisa bangunan itu sedang diteliti dan diamankan di Laboratorium Arkeologi. Ajaibnya ada banyak gabah gosong yang ditemukan di rumah tersebut.


“Ini ambil aja dik kalau mau, buat oleh-oleh temannya!” kata petugas di sana sambil menyodorkan satu ember gabah gosong. “Hehehe..oleh-oleh langka nih,” gumamku. Sayapun dengan senang hati menerimanya, mengambil segenggam gabah dan saya masukkan ke dalam plastik bening.

Berdasarkan hasil survey Balai Arkeologi Yogyakarta, luas kawasan ini diperkirakan 2 hektar. Namun mengingat situs masih banyak yang terkubur , masih sangat dimungkinkan luasnya lebih dari yang didapatkan pada hasil survey.

Perlu diketahui bahwa penemuan situs Liyangan ini merupakan satu-satunya yang pernah ditemukan di Indonesia, sehingga memiliki arti sangat penting bukan hanya bagi pengembangan kebudayaan di Indonesia, tetapi juga dalam skala internasional. Oleh sebab itu pemerintah Kabupaten Temanggung sangat memiliki peranan penting dalam mendukung penelitian bersejarah tersebut. Karena ini merupakan aset yang sangat berharga untuk generasi masa mendatang dan bangsa Indonesia.

Tak ada salahnya kalau kalian yang sedang berwisata ke Jawa Tengah untuk mampir ke Temanggung. Situs ini juga bisa jadi tujuan alternatif liburan akhir pekan anda. Wisata sejarah yang tidak kalah menarik, bukan? 




Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Salam hangat dari tanah Kedu!

Baca juga:
Jejak Meteor di Temanggung

SUMBER: tani-temanggung.blogspot.co.id/2014/06/misteri-situs-liyangan-temanggung..html

Jejak Meteor di Temanggung

Jejak Meteor di Temanggung


Monumen meteorit adalah salah satu objek wisata yang terletak di Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu yang berada di kaki Gunung Sumbing. Monumen ini dibangun untuk mengingat peristiwa alam jatuhnya meteor di Desa Wonotirto pada hari Jumat tanggal 11 Mei 2001, sekitar pukul 09.00.

Saat itu, belasan warga sedang melakukan aktifitas di ladang tembakau, mereka dikejutkan dengan suara gemuruh disertai ledakan keras menyusul 2 buah benda jatuh dari langit. Setengah jam kemudian hal itu terjadi lagi, sebuah benda serupa jatuh di jalan dengan jarak 1 kilometer dari pemukiman penduduk. Ternyata benda tersebut adalah sebuah meteor sebesar kepalan tangan orang dewasa, setelah itu warga yang menyaksikan kejadian tersebut melaporkannya pada perangkat, sehingga laporan berlanjut ke pemerintahan kabupaten.


Untuk keperluan penelitian maka meteor tersebut dibawa ke Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta. Peristiwa ini terjadi kembali setelah berselang 17 tahun pasca jatuhnya meteor di Desa Jumapolo Kabupaten Karanganyar pada tahun 1984. Menurut Rektor IST Akprind, Ir Sudarsono, MT, setiap tahun rata-rata ada 150 meteorit jatuh ke bumi, namun meteorit yang jatuh di Desa Wonotirto tersebut mempunyai catatan sejarah tidak seperti yang lain.

Setelah dilakukan penelitian, kemudian pemerintah daerah Temanggung memutuskan untuk membangun monumen tepat di lokasi jatuhnya meteor tersebut yang diresmikan tanggal 18 Februari 2002. Museum Rekor Indonesia ( MURI ) sendiri menempatkan monumen ini sebagai satu-satunya monumen tempat jatuhnya meteor di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Kini setelah sekian lama tersimpan di IST Akprind Yogyakarta, pada hari Senin 3 Mei 2010 batu meteor dikembalikan kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung. Adapun serah terima dilakukan oleh Ir. Sudarsono, MT kepada Bupati Temanggung Drs. Hasyim Afandi. Usai menyerahkan meteor tersebut, rombongan dari IST Akprind diantar Wakil Bupati Temanggung, Budiarto, mengunjungi monumen meteorit.

Untuk sementara batu meteor tersebut disimpan di Kantor Bupati Temanggung , di komplek Kantor Setda Temanggung. Sebagai tindak lanjut, Dinas Kebudayaan dan Pariwitasa serta Dinas Pemuda dan Olahraga Temanggung akan menyusun rencana pemanfaatan meteorit tersebut untuk kepentingan wisata pendidikan. Dari sinilah muncul gagasan untuk membangun planetarium mini dan diusahakan agar gedung tersebut dapat dibangun sesuai dengan prinsip-prinsip planetarium yang ada dan meteorit dapat diletakkan secara permanen di dalamnya.

Monumen ini menjadi salah satu objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, apalagi didukung dengan panorama alam yang indah, serta udara pegunungan yang sejuk dan menyegarkan ditambah dengan potensi agrowisata buah juga sayuran di sekitar lokasi dengan latar belakang Gunung Sumbing yang kokoh.


Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Salam hangat dari tanah Kedu!
SUMBER: WIKIPEDIA
Photo by Google

Alun-alun Terluas di Jawa Tengah

Alun-alun Terluas di Jawa Tengah
Pada jaman dahulu, alun-alun adalah simbol kejayaan sebuah wilayah, baik itu kerajaan, kadipaten ataupun kabupaten. Alun-alun Purworejo merupakan alun-alun kabupaten lama yang cukup luas. Bahkan, yang terluas di Jawa Tengah. Luas alun-alun Purworejo enam hektar atau 60.000 meter persegi dengan bentuk segi empat. Baik panjang maupun lebar ukuranya hampir sama.



Ciri khas pola tata kota Jawa Kuno selalu dengan jantung kota berupa sebuah alun-alun dan ditengahnya berdiri pohon beringin. Di tengah alun-alun Purworejo terdapat sepasang pohon beringin yang didatangkan dari Kraton Yogyakarta.
Alun-alun Purworejo dikelilingi oleh bangunan-bangunan penting semasa pemerintahan R. Cokronegoro I (bupati pertama Purworejo). Pendopo Kabupaten Purworejo berada di sebelah utara alun-alun menghadap selatan. Di sebelah selatan alun-alun ada Kantor Karesidenan bagelen yang kini menjadi Kantor Setda Purworejo. Sebelah barat alun-alun terdapat Masjid Agung Darul Muttaqin. Yang di dalam masjid tersebut terdapat Bedug Pendowo, bedug terbesar di dunia. Sementara sisi timur berdiri bangunan Gereja. Semua itu merupakan banguan penting yang sudah disusun sedemikian rupa oleh R. Cokronegoro I sebagai bupati pertama Purworejo.
Pada alun-alun sebelah utara terdapat dua bangunan kecil yang berfungsi sebagai tempat beristirahat bagi orang yang ingin menghadap bupati. Sekarang bangunan sebelah barat digunakan sebagai kantor KNPI dan sebelah timur untuk kantor KONI.
Tata kota Purworejo ini adalah pola tata Jawa Kuno. Sejak awal berdirinya Kabupaten Purworejo sampai sekarang, pola tata kotanya tidak mengalami perubahan. Pola tersebut mempunyai kekhususan yang sampai sekarang sulit dicari bandingannya. Semua tata letak bangunan semetris. Dan hingga sekarang bangunan-bangunan tersebut masih tegak berdiri dan difungsikan dengan baik.
Masih banyak peninggalan tata kota Purworejo kuno yang hingga kini masih terawat dan difungsikan dengan baik. Bangunan-bangunan yang kebanyakan peninggalan pemerintahan Belanda dengan arsitek khas Belandanya, tersebar di berbagai sudut kota Purworejo. Tentang bangunan-bangunan lain akan kita bahas di lain kesempatan di fan page Wisata Kedu ini.
Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!

Nikmatnya Berendam di Candi

Candi Umbul



Candi Umbul adalah situs purbakala berupa pemandian air panas yang terletak di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini dibangun sejak zaman Wangsa Syailendra, dan sampai sekarang sisa-sia peninggalannya masih tetap dilindungi dan dijadikan salah satu objek wisata andalan di Kabupaten Magelang.

Lokasi
Candi ini terletak di desa Kartoharjo, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Untuk dapat mencapai objek wisata ini, bila mengendarai mobil dari arah Semarang, pengunjung dapat mengambil jalan ke kiri sebelum Kecamatan Pringsurat, Temanggung. Sekitar 400 meter akan langsung sampai di lokasi. Sedangkan apabila dari arah Yogyakarta, pengunjung dapat mengambil jalan ke kanan di pertigaan Desa Krincing (sebelah utara Secang) ke arah Grabag, kemudian mengikut papan penunjuk arah menuju Candi Umbul.

Sejarah
Asal-usul penamaan Candi Umbul berasal dari kata umbul (bahasa Jawa) karena sumber air yang keluar dari dasar kolam selalu menyembul serupa gelembung-gelembung, atau yang di masyarakat Jawa disebut ''mumbul'' (naik). Kolam di situs ini terbagi menjadi dua tempat. Yang pertama (terletak di bagian atas) merupakan kolam air panas,g mengandung belerang. Sedangkan kolam kedua (lebih rendah) berisi air dingin. Keseluruhan dinding kolam terbuat dari lapisan-lapisan batu andesit. Pada zamannya, kolam ini merupakan tempat pemandian para putra-putri bangsawan.


Sejumlah batuan situs berjejer di tepian kolam menggambarkan berbagai relief tumbuhan, binatang, dan stupa bagian puncak candi. Dan secara keseluruhan candi ini masih menampakan nuansa sejarahnya. Keberadaan umpak (pondasi) yang terdapat di setiap sudut dasar kolam merupakan tiang penyangga atap pelindung. Sedangkan batuan lain berbentuk lingga datar merupakan alas duduk untuk bersemadi para ksatria.

Dari relief dan beberapa petilasan bentuk lingga dan yoni di beberapa titik, membuktikan bahwa Candi Umbul merupakan candi bercorak [[Hindhu]]. Jika menilik sejarah perkembangan Kerajaan Mataram Kuno, kemungkinan besar candi ini dibangun oleh Dinasti Sanjaya yang beragama Hindhu. Tidak banyak ciri bangunan candi yang tersisa di area Candi Umbul saat kini. Namun demikian di dalam kolam terdapat beberapa batu ''umpak'' berbentuk ''lingga'' yang datar di permukaan bagian atasnya. Di samping sebagai patirtan (tempat mandi), sangat dimungkinkan keberadaan landasan batu umpak berbentuk lingga tersebut dulunya dipakai sebagai alas tempat duduk untuk bertapa kungkum atau bertapa rendam para ksatria pada masa lalu.


Yang unik dari kolam pemandian Candi Umbul adalah tidak adanya bau belerang seperti layaknya sumber air panas di objek wisata air panas lainnya. Sehingga pengunjung dapat sepuasnya berendam di tempat itu tanpa menanggung risiko. Namun belerang yang terkandung di dalamnya tetap mendatangkan manfaat menyembuhkan penyakit kulit, dan suhu airnya dapat menjadi terapi tulang dan pelancaran peredaran darah.

SUMBER: WIKIPEDIA
Photo by Google

CANDI ASU

CANDI ASU

Candi Asu adalah nama sebuah candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi Pos, Kelurahan Sengi, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Nama candi tersebut merupakan nama baru yang diberikan oleh masyarakat sekitarnya. Disebut Candi Asu karena dahulu di dekat candi tersebut terdapat banyak anjing.

Lokasi
Candi ini terletak di lereng Gunung Merapi di dekat pertemuan Sungai Pabelan dan Sungai Telingsing, kira-kira 10 km di sebelah timur laut dari Candi Ngawen. Di dekatnya juga terdapat 2 buah candi Hindu lainnya, yaitu Candi Pendem dan Candi Lumbung.

Arsitektur
Candi Asu menghadap ke barat. Candi ini berdenah bujur sangkar dengan panjang sisi 7,94 meter. Tinggi kaki candi 2,5 meter, tinggi tubuh candi 3,35 meter. Tinggi bagian atap candi tidak diketahui karena telah runtuh dan sebagian besar batu hilang. Dengan ukuran tersebut, candi ini termasuk candi kecil.
Di dekat Candi Asu telah diketemukan dua buah prasasti batu berbentuk tugu (lingga), yaitu prasasti Sri Manggala I (874 M) dan Sri Manggala II (874 M).
--------------------------------------------------------\\//------------------------------------------------------------------


Candi yang terletak di kaki Gunung Merapi, di Kecamatan Dukun Magelang ini memiliki panjang 7,5 meter. Sedangkan lebar candi hanya 8 meter. Saat ini, yang tersisa hanyalah bagian pondasi dan kaki candi dengan ketinggian 2,5 meter.
Di salah satu bagian candi terdapat bekas sumur sedalam 5 meter, dan anak tangga sebanyak 9 undakan. Salah satu tembok candi yang tersisa memiliki tinggi 3,5 meter. Pada bagian utara bangunan ini, terdapat relung.
Dari catatan sejarah, candi ini berdiri saat pemerintahan Prabu Hayuwangi Darmalih Salingsinga atau Rakai Hayuwangi pada abad VIII mendekati masa Hindu-Buddha. Awalnya, candi ini ditemukan seorang Belanda bernama de Plink.
Nama yang tersemat pada candi ini bukan tanpa arti. Nama Asu merupakan bahasa Jawa yang berarti Anjing. Asal-muasal nama Asu, ada dua versi. Versi pertama, Asu dari kata Ngaso. Ngaso di sini juga merupakan bahasa Jawa yang artinya istirahat. Menurut legenda, seorang raja yaitu Prabu Hayuwangi Darmalih Salingsinga atau Rakai Hayuwangi datang ke tempat ini untuk beristirahat. Maksud dari beristirahat adalah meninggal dan candi ini merupakan makam dari sang prabu.
Versi kedua, merupakan penjelasan dari keberadaan sumur di tengah bilik candi yang dipinggirnya terdapat Arca yang disebut Dewindani dalam bentuk asu atau anjing.

MITOS

Arca Dewindani merupakan contoh dari perilaku manusia yang hidup di dunia ini. Ia menggambarkan perempuan yang sudah berkeluarga tetapi sering serong sehingga diibaratkan anjing. Sebuah gambaran yang sangat hina dan kasar.
Masyarakat sekitar candi memiliki kepercayaan bahwa candi ini dipelihara oleh tokoh yang bernama Ki Budayana, Ki Panjaloka, dan Ki Panjalo. Kepercayaan ini masih dipegang teguh oleh mereka yang sudah berumur. Mereka yang datang ke candi ini, di larang keras membawa minyak gosok atau balsem. Karena, barang itu akan hilang. Tidak hanya itu saja, seluruh badan akan merasakan sengatan minyak gosok atau balsem yang dibawa tersebut.

LOKASI:

Candi Asu berada di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Magelang, Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi ini, ada beberapa alternatif. Termudah dan tercepat adalah menggunakan kendaraan pribadi. Cukup mencari Kota Muntilan dan berbelok menuju ke Pasar Talun, sekitar 7 kilometer.
Begitu sampai di pasar tradisional terbesar di Kecamatan Dukun ini, melanjutkan ke Desa Sengi yang berjarak satu kilometer. Usai melintas ke Sungai Tlingsing akan menjumpai pertigaan di Pasar Sengi, ambil jalan yang lurus sekitar 100 meter, sampailah di Desa Sengi. Candi Asu berada di pinggir desa. Jika menumpang kendaraan umum hanya bisa sampai Pasar Talun, dari Kota Muntilan. Dari Pasar ini, dilanjutkan dengan naik ojek.
Sumber: WIKIPEDIA, JalanJogja.com
Photo by: googple.

Sasana Wiratama, Saksi Bisu Kegigihan Diponegoro

Sasana Wiratama, Saksi Bisu Kegigihan Diponegoro

Museum Sasana Wiratama adalah museum museum sekaligus monumen kediaman Pangeran ketika dikepung oleh pihak Belanda.


Pembangunan museum ini ditandai dengan pembina Rumpun Diponegoro menanam prasasti di dalam tanah bekas puri Pangeran Diponegoro, pada tanggal 5 Oktober 1968. Prasasti tersebut berbunyi Ngesti Paras Gapuraning Tunggal yang menunjukkan angka tahun 1968 M, serta mempunyai arti filsafat "untuk mencapai cita-cita yang indah dengan jalan tenar akan terjalin suatu persatuan". Pada tanggal 9 Agustus 1969 tahap pertama bangunan induk Monumen telah selesai dibangun dan diresmikan oleh Presiden Soeharto.
Koleksi
Koleksi-koleksi museum berjumlah sekitar 100 buah yang terdiri dari gamelan, bandil, tameng, keris dan sejumlah benda peninggalan Pangeran Diponegoro saat bertempat tinggal di rumah ini.
Salah satu kokeksi yang amat menarik adalah satu set furnitur yang menjadi saksi bisu perjuangan terakhir Pangeran Diponegoro ketika dijebak Belanda tanggal 25 Maret 1830 silam.
Pada saat perundingan yang berakhir penjebakan, ada empat orang yang duduk, Pangeran Diponegoro, Jenderal De Kock, Mayor Ajudan De Strure, dan Kapten Roes sebagai translator
Koleksi lain adalah jubah asli Pangeran DIponegoro yang dipakai saat perundingan tersebut juga disimpan dalam lemari kaca. Jubah dari kain Santung Tiongkok itu kini rapuh sehingga penyimpanannya pun hati-hati termasuk harus mengatur suhu di dalam lemari.
Selain satu set furnitur dan replika jubah, dipajang pula kitab Taqrib dengan isi tulisan Arab gundul. Konon katanya kitab itu merupakan pelajaran strategi yang diberikan kepada Pangeran Diponegoro dari gurunya.
Museum ini terletak di Jalan P. Diponegoro no 1 Magelang.
[disarikan dari wikipedia & detiknews]
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Salam hangat dari tanah Kedu!

Sensasi Mistis, Historis, dan Unik Sebuah Masjid Kuno

Sensasi Mistis, Historis, dan Unik Sebuah Masjid Kuno

Adalah Masjid Tiban. Sebuah masjid kuno yang hingga sekarang masih terawat dan dilestarikan oleh warga sekitar. Masjid ini terletak di Dusun Kauman, RT 02/RW 02 Desa Jenar Kidul,  Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo. Masjid ini berumur sekitar 400an tahun.

Masjid ini memang dinamai Masjid Tiban, tidak menggunakan nama-nama bahasa Arab seperti masjid lainnya.Masjid ini mempunyai sejarah panjang unik dan berbumbu mistis.

Menurut warga sekitar, bahwa Masjid Tiban diperkirakan bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung Demak. Masjid Tiban dibangun oleh salah satu Wali Songo, yaitu Sunan Kalijaga pada tahun 1468 M. Tetapi saat membangun masjid Tiban, Sunan Kalijaga menyamar menggunakan nama Syekh Udan Baring.

Masih banyak peninggalan di sekitar masjid Tiban yang masih terawat dengan baik. Seperti saat kita mulai masuk pelatarab masjid, kita akan disambut oleh gapura berarsitek khas jawa kuno - pra Islam. Gapura yang terbuat dari batu bata itu semula hanya di rekatkan dengan tanah seperti bangunan pada jamannya. Namun karena mengalami  kerusakan,maka pada tanggal  10 Februari 1991, gapura dipugar, tetapi bentuk asli gapura tetap dipertahankan.

Memasuki area dalam masjid kita akan disiguhi arsitektur khas Jawa kuno. Empat buah saka guru masih berdiri tegak seperti waktu pertama kali dibangun. Empat buah saka guru Masjid Tiban terbuat dari tatal kayu Jati yang diikat menggunakan lempengan besi. Saka guru tersebut diyakini memiliki ukuran yang sama dengan saka yang dibuat Sunan Kalijaga untuk Masjid Agung Demak. Dan hingga kini, empat saka guru itu masih menjadi penyangga utama bangunan atap masjid.
Yang menarik, di bawah saka guru tersebut terdapat empat buah umpak penyangga saka. Yonit dan Lingga dalam bentuk laki-laki dan perempuan. Umpak batu merupakan bangunan masa peradaban Hindu-Budha. Hal ini menunjukkan terjadinya kesinambungan budaya yang ditanamkan oleh Wali dan kyai jaman dahulu. Sekaligus wujud toleransi karena produk dari bangunan agama lain masih tetap dijaga.

Selain bentuk dalam masjid yang masih dijaga keasliannya, terdapat juga sebuah bedug yang sudah cukup tua umurnya. Konon katanya, bedug tersebut berasal dari pohon yang sama dengan bedug Pendowo, bedug terbesar di dunia.

Di tempat sesuci, terdapat juga peninggalan berupa Kolah Bundar. Kolah Bundar ini terbuat dari jambangan tanah.
Kolah bundar pertama kali di temukan di lahan persawahan Jambangan,sekitar 1,5 KM dari Masjid. Kolah tersebut selanjutnya di angkat ke Masjid dan diletakkan di sebelah selatan Masjid. Kolah Bundar ini diberi nama Al-Musyaffa, yang artinya Yang Mengobati, dengan harapan, kolah ini jadi sumber pengobatan.
Air untuk sesuci dan keperluan masjid pun berasal dari sumur yang sudah ada sejak jaman dahulu. Sumur ini dinamai sama seperti nama masjid, Sumur Tiban. Sumur ini juga dipercaya muncul secara tiba-tiba.

Peninggalan lain yang sangat unik lainnya ada di sebelah selatan masjid. Adalah sebuah batu andesit berwarna hitam. Warga sekitar sering menyebutnya sebagai Batu Hitam. Bahkan, sebagian warga sekitar percaya bahwa batu tersebut merupakan pecahan dari hajar aswad di Ka'bah. Tentunya hal ini membutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikannya.
Pada batu hitam ini terdapat tulisan arab. Tetapi cukup susah untuk membaca tulisan tersebut mengingat Batu Hitam kini dipagari untuk menjaga dan melindungi posisi batu tersebut. 

Masjid ini cukup ramai dikunjungi oleh warga kabupaten Purworejo dan sekitarnya. Tentunya dengan pelbagai macam latar belakang dan tujuan mendatangi masjid Tiban ini. Ada yang sekedar berkunjung, menikmati peninggalan Islam Nusantara kuno, hingga yang datang untuk 'bertiraka' di masjid tua ini.

Anda ingin menjajal aura historis dan mistis yang cukup kental? Jangan percaya sebelum datang dan buktikan sendiri!

Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.

--disarikan dari pelbagai sumber
--photo by: google, detik
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Baca juga wisata di karesidenan Kedu yang lain di www.taraveela.com

Bedug Terbesar di Dunia

Bedug Pendowo adalah bedug terbesar di dunia. Bedug ini terletak di Masjid Agung Purworejo, Kabupaten Purworejo, tepatnya di sebelah barat Alun-alun Purworejo.

Bedug ini dikatakan sebagai yang terbesar karena terbuat hanya dari satu gelondong kayu jati. Dan kayu jati tersebut berasal dari desa Pendowo, sebuah desa di bagian selatan wilayah kabupaten Purworejo. Bedug ini memiliki diameter 1,94 meter dan panjang 2,52 meter.

Bedug Pendowo dibuat pada masa pemerintahan bupati pertama Purworejo, R. Cokronegoro I pada tahun 1832 - 1840. Dengan begitu, hingga sekarang, bedug ini sudah berumur 175 tahun.

Pada masa liburan, Bedug Pendowo ramai dikunjungi wisatawan, mengingat posisi strategis masjid Agung Purworejo sebagai tempat transit di jalur selatan Jawa Tengah.

Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.


-----------------------------------------------------------------------
Ingin tau lebih banyak lagi tentang wisata dan info menarik seputar wilayah eks Karesidenan Kedu? Ikuti terus www.taraveela.com dan like fan page #WisataKedu di Facebook!
Salam hangat dari tanah Kedu!

Featured Post

Taraveela, Bisnis Besar dari Purworejo

Taraveela, Bisnis Besar dari Purworejo Taraveela adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Travel & Tour. Yang melayani pemb...