Showing posts with label WISATA ALAM. Show all posts
Showing posts with label WISATA ALAM. Show all posts

Event Besar di Ramadhan untuk Purworejo

Event Besar di Ramadhan untuk Purworejo


Bulan Ramadhan tahun ini di Purworejo terasa semakin istimewa. Pada tahun ini, untuk pertama kalinya, diadakan sebuah event khusus Ramadhan yang berlangsung selama bulan Ramadhan. Ya, Event itu adalah Purworejo Ngabuburit 2016.

Purworejo Ngabuburit 2016 ini adalah pasar pusat jajanan takjil dan bazar Ramadhan. Event ini berlangsung dari tanggal 3 Ramadhan (8 Juni 2016) sampai akihir bulan Ramadhan 1437 H. Bertempat di alun-alun Purworejo bagian utara, tepat di depan Pendopo Kabupaten Purworejo. Dimulai dari jam 15.00 WIB sampai dengan 18.00 WIB setiap harinya.

Purworejo Ngabuburit 2016 digawangi oleh Paguyuban Pedagang Car Free Day (CFD) “GANESHA” Alun-Alun Timur Purworejo. Dan peserta atau para pedagangnya adalah UKM yang berasal dari Purworejo. Selain untuk menyambut bulan Ramadhan, event ini diadakan untuk menyambut para pemudik untuk mencari souvenir dan oleh-oleh khas Purworejo saat menjelang lebaran. Mengingat event ini diadakan sampai dengan hari terakhir Ramadhan tahun ini.


Purworejo Ngabuburit 2016 adalah salah satu terobosan baru untuk memberdayakan UKM-UKM di daerah Purworejo. Karena event besar dan khusus selama bulan Ramadhan ini juga baru pertama kalinya digelar. Semoga bisa lestari dan menjadi ajang pemberdayaan UKM di Purworejo.

Baca juga:

Kaos Clorot; Lestarikan Tradisi, Kenalkan Budaya Purworejo

Kaos Clorot; Lestarikan Tradisi, Kenalkan Budaya Purworejo


Kaos Clorot Warna Putih
Clorot, jajanan kuno khas Purworejo kini kian sulit ditemui. Selain cara pembuatannya yang cukup rumit, juga tidak banyak yang melestarikan clorot sebagai jajanan.

Berangkat dari hal ini, juga demi mengenalkan produk budaya asli Purworejo, lahir lah sebuah ide untuk mengenalkan budaya Purworejo melalui media kaos.

Kaos CLOROT Purworejo hadir untuk mengenalkan Purworejo pada dunia. Menggugah orang Purworejo untuk bangga bisa mengenalkan segala tentang kampung halaman Purworejo.


Kaos Clorot Purworejo tersedia dengan 3 warna:
1. Putih
2. Hitam
3. Abu-abu
Ukuran S, M, L, XL (ukuran sesuai stok yang tersedia)

Cukup dengan harga Rp 60.000,- 

Untuk pemesanan silahkan hubungi:
BBM 51726959 / WA-SMS +6285700002296

Outlet: Kantor Taraveela, Jl. Let.jend. Suprapto no 30 Purworejo
(Belakang pasar Suronegaran, Kursus Bahasa Inggris ECC)

Outlet CFD Alun-alun Purworejo setiap Minggu pagi. Alun-alun bagian timur, seberang SD Maria.

Juga melayani pembelian untuk luar kota, harga belum termasuk ongkos kirim.

Juga melayani pemesanan desain kaos khas Purworejo dengan harga bersahabat.

Mari bangga mengenalkan Purworejo pada dunia!
Kaos Clorot Warna Hitam

Kaos Clorot Warna Abu-abu
Kaos Purworejo

Geger Menjangan, Pre Order
Baca juga:
Alun-alun Terluas di Jawa Tengah

Eksotisme Alam di Curug Lawe


Eksotisme Alam di Curug Lawe
Air tejun merupakan suatu tempat wisata yang paling banyak terdapat di Jawa Tengah. Tetapi jangan salah dengan wisat air terjun yang satu ini. Curug lawe, curug lawe berada di Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Curug lawe merupakan salah satu air terjun yang ada di kaki gunung ungaran, konon air terjun ini bisa dinamakan curug lawe karena jatuhnya air dari air terjun ini menjuntal mengesankan untaian benang, kalau dalam bahasa jawa biasanya menyebutnya lawe yang berarti sangat halus dan berwarna putih. Kata Lawe dalam bahasa Jawa memang berarti benang yang 
sangat halus. Curug lawe berbeda dari kebanyakan curug yang dijadikan objek wisata, disini kita akan disajikan oleh suasana alam khas yang masih sangat alami sehingga belum terlalu terganggu dengan aktivitas dan sampah yang sering kita jumpai di kota. Lokasinya curug lawe memang berada cukup jauh dari pusat kota Temanggung tepatnya berada di Dusun Muncar Lor, Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah.

Dikawasan ini, teman-teman juga bisa menikmati wisata belanja sayuran dan buah-buahan, terutama pisang dengan harga sangat murah, karena langsung dibeli dari petani yang ada di ladang atau disawah mereka. Jika anda malu untuk membelinya dari petani atau mungkin kesulitan mencari petani yang sedang berada di ladang atau sawahnya anda bisa membelinya di Pasar Muncar dengan harga yang relatif murah juga, karena memang di daerah muncar ini terkenal akan pertaniannya yang subur dan hasil buah-buahan yang baik.


Disekitar objek wisata curug lawe sebenarnya juga terdapat buah khas dari gemawang, apa itu? Orang di sekitar sana biasa menyebutnya cendul atau kalau orang temanggung kota biasa menyebutnya dengan sebutan buah kepel, saya tidak tahu kalau dalam bahasa indonesia kepel itu disebut buah apa tetapi ditempat saya orang-orang sering menyebutnya cendul atau kepel yang memang jika kita teliti di pasar lain masih jarang dijumpai di daerah lain. Jika sedang musimnya, wisatawan bisa memetik buah kepel dari pohonya secara gratis. Buah ini sangat menyegarkan, sehingga bisa menghapus dahaga para pengunjung. Maklum karena memang untuk menuju curug lawe pengunjung yang membawa kendaraan pribadi seperti mobil/sepeda motor harus menitipkan kendaraanya di rumah-rumah penduduk setempat, karena para pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak menuju lokasi.



Tetapi menurut saya justru inilah yang paling menarik dari wisata ini, karena di derah kota kita tidak mungkin bisa berjalan melewati pematang sawah, melewati ladang, jauh dari kesan polusi kendaraan bermotor atau asap pabrik. Dan yang lebih penting lagi udara disini sangat sejuk tanpa anda harus menggunakan ac karena disini sudah tersedia ac alami, yaitu dari tumbuh-tumbuhan di sekitar. Pantas jika pengunjung sudah sampai di lokasi curug lawe lebih suka berlama-lama dan enggan untuk kembali.

Dari lokasi parkir anda harus berjalan cukup jauh, kira-kira 1.5 jam untuk mencapai Curug Lawe, fantastik bukan? Mungkin inilah alasan utama pengunjung lebih suka berlama-lama di curug dan enggan untuk kembali. Tapi jangan khawatir karena setelah ditengah perjalanan anda akan disuguhi dengan pesona alam yang begitu memikat dan segala rasa capek anda akan terobati dengan segarnya air dari curug lawe ini. Seperti akan dibawa seolah-olah seperti menemukan oase yang sangat indah.

Saat anda memasuki pos pembayaran tiket sebaiknya anda membeli makanan atau minuman untuk menemani perjalan anda, jangan sampai tidak membawa bekal karena perjalanan yang akan anda lalui lumayan melelahkan. Cukup membawa air mineral 1 botol dan makanan ringan itu saja sudah cukup, karena mungkin anda akan lupa untuk memakan bekal anda karena terpesona oleh keindahan alam sekitar. Trek awal menuju curug adalah parit irigasi yang cukup panjang. Jalannya kecil dan licin, jadi hati-hati kalau lewat sini. Apalagi kalau melihat aliran deras air paritnya bisa pusing kepala jadi kita sarankan untuk berhati-hati. Objek wisata ini sangat cocok bagi pengunjung yang menyukai wisata bertema petualangan. Karena disinilah kita akan merasakan asiknya petualangan selama kurang lebih 1 setengah jam dan tentunya akan membuat anda ingin kembali lagi ke tempat ini. Tidak jauh dari Curug Lawe juga terdapat mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk mengobati beberapa penyakit kulit dan tulang, karena airnya mengandung belerang.

Akses Menuju Tempat Wisata Curug Lawe

Barjarak 26 kilo arah utara Kota Temanggung atau 1 jam perjalanan lewat jalur Parakan-Ngadirejo. Kondisi jalan menuju kesana sudah beraspal hingga desa. atau anda juga bisa melewati jalan tembus dengan anda mengambil arah ke parakan, setelah ketemu desa ngimbrang anda ambil kanan dan anda akan sampai ke pasar kedu. Dari pasar Kedu anda tinggal lurus saja dan mengikuti jalan utama kedu - Jumo, setelah melewati jembatan anda ambil kiri dan hanya dalam waktu beberapa menit saja anda sudah sampai di tempat tujuan.



Baca juga:
Jejak Meteor di Temanggung

Photo by: google
SUMBER: tani-temanggung.blogspot.co..id

Kekayaan Alam yang Tersembunyi dari Purworejo

Kekayaan Alam yang Tersembunyi dari Purworejo


Ada sebuah aliran sungai di Purworejo yang akhir-akhir ini sedang hits dan banyak diperbincangkan oleh para traveller. Aliran sungai ini memiliki pemandangan yang sangat langka. Terbentuk oleh proses alam selama ratusan tahun.
Ya, aliran sungai itu adalah Curug lumbung, nama tersebut didapat dari penduduk sekitar. Juga biasa disebut dengan curug santren. Adalah sungai eksotis dengan tebing - tebing yang terukir secara alami dengan panjang sekitar 100 meter. Kedalaman dan ketinggian curug ini cukup bervariasi. 

Curug Lumbung ini terletak di Desa Karangsari, Kecamatan Bener, Purworejo, Jawa Tengah. Tepatnya adalah di dusun Krandon RT 1, RW 4.

Menuju Curug Lumbung
Untuk menuju Curug Lumbung cukup mudah. Jarak Curug Lumbung dari pusat kota Purworejo kota sekitar 14 Km. Anda dapat mengambil jalan raya Purworejo - Magelang. Setelah sampai di kecamatan Bener, tepatnya di daerah Kaliboto, carilah SMP 19 Purworejo, lalu sekitar 500 meter dari SMP 19 ada bangunan saluran irigasi air yang dibangun menyebrangi di atas jalan raya, Talang Gunung Puyuh. Nah, tepat sebelum saluran irigasi tersebut, di kiri jalan ada pertigaan yang menanjak. Ikuti terus jalan tersebut sekitar 1 kilometer sampai di  pertigaan pasar Krandon. Dari pertigaan pasar Krandon, belok ke kanan, Anda dapat menitipkan motor di rumah warga, karena perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Perjalanan dengan berjalan kaki memakan waktu sekitar 10 menit. Ada baiknya bertanya pada warga sekitar jika masih kebingungan mencari arah Curug Lumbung ini.

Curug Lumbung ini adalah destinasi wisata yang masih benar - benar baru dikembangkan. Masyarakat sekitar sebenarnya sudah sudah tahu, tetapi Curug Lumbung ini baru mulai banyak dikenal pada tahun 2016, terutama setelah masuk di acara TV. Banyak wisatawan dari Purworejo sendiri dan luar kota datang untuk melihat indah dan eksotisnya pemandangan di Curug Lumbung ini. Dinding - dinding batu di curug lumbung bagaikan ukiran yang dibentuk oleh proses alam yang sangat indah. Derasnya aliran sungai dan keindahan ukiran dinding inilah yang sering menjadi latar untuk berfoto ria di sekitar Curug Lumbung. Musim terbaik untuk berkunjung dan berfoto di Curug Lumbung adalah musim kemarau, karena debit air tidak akan terlalu deras dan air terlihat lebih jernih.

Aliran Sungai Istimewa
Aliran sungai di curug Lumbung ini cukup istimewa. Menurut warga sekitar, pasir dari aliran sungai Curug Lumbung ini sangat baik untuk menggoreng (menyangan) kacang tanah untuk menghasilkan kacang goreng. Rasa kacang tanah yang disangan dengan pasir dari aliran sungai ini pun akan terasa lebih enak daripada menggunakan pasir dari sungai yang lain. Hal ini sudah diakui oleh banyak warga sekitar yang sering menggunakan pasir tersebut untuk menyangan kacang tanah. Dan mengapa bisa menambah rasa enak untuk menyangan kacang? Sepertinya membutuhkan penelitian lebih lanjut dari para ahli.

Penasaran ingin bagaimana indahnya Curug Lumbung? Silahkan buktikan sendiri keindahan dan eksotisme pemandangan di sekitar Curug Lumbung.


Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Salam hangat dari tanah Kedu!

Baca Juga:
Alun-alun Terluas di Jawa Tengah

Disarikan dari pelbagai sumber.
Photo by Google.

Arung Jeram untuk Pemula di Magelang

Arung Jeram untuk Pemula di Magelang
Bagi pecinta arung jeram, musim kemarau adalah musim yang menyedihkan. Akan tetapi ada trip arung jeram yang dapat dilalui dalam segala musim, yaitu trip sungai Elo. Selain kali Progo, Magelang juga dilalui oleh kali Elo. Walau kalah seru dibanding arung jeram di kali Progo, menyusuri keindahan kali Elo dapat menjadi obat tersendiri bagi pecinta wisata air.

Arung Jeram Kali Elo
Rute yang diambil mulai dari bawah jembatan Blondo yang juga merupakan starting point dari semuaOperator Arung Jeram yang memandu di sungai Elo.
Sebelum naik perahu peserta diberikan briefing singkat tentang cara menggunakan perlengkapan mulai dari helm, rompi pelampung serta dayung tak lupa cara menggunakan dayung tersebut. Walau jalur sungai elo terbilang aman, pemandu juga memberikan briefing singkat tentang penanganan pada kecelakaan. Peserta wajib melapor kepada pihak operator apabila menderita penyakit khusus, seperti astma, jantung dan sebagainya.
Peserta tidak diperkenankan membawa peralatan lain, kecuali obat atau barang penting setelah mendapat izin dari pemandu. Untuk barang-barang tersebut, pihak operator telah menyediakan drybag, yaitu sebuah tas anti air.
Trip ini menempuh jarak sekitar 10 km dan akan memakan waktu sekitar 1,5 hingga 2 jam, dan berakhir di sekitar daerah Sawitan. Sebuah perahu dapat diisi oleh 4 orang dewasa dan satu pemandu, jika ada anak-anak maka akan disesuaikan dengan berat tubuh serta keseimbangan perahu.
Wisata Kali ELo
Selama perjalanan, tidak ada kesempatan sekalipun untuk peserta merasa bosan. Disamping pemandangan yang indah, peserta juga dihibur oleh pemandu yang ramah. Sesekali pemandu melempar canda atau mengarahkan perahu sedemikian rupa untuk membuat suasana ceria.
Ragam fauna di sungai Elo tidak banyak, mungkin karena warna air yang kehijauan membuat ikan didalam tidak terlihat. Pemandangan yang mencolok adalah banyaknya laba-laba air di sekitar tepian sungai, juga sesekali terlihat biawak di bebatuan, ada diantaranya yang berukuran sepanjang satu lengan orang dewasa.
Elo Rafting
Ada tempat-tempat  tertentu yang aman untuk bermain air, biasanya ditandai dengan perahu terbalik atau permainan yang dibuat oleh pemandu. Peserta yang panik biasanya akan berteriak minta tolong hingga akhirnya mereka sadar kalau berada di air yang dangkal. Jika peserta menggunakan 2 atau lebih perahu biasanya diadakan lomba antar tim pada jarak tertentu, dan masih ada lagi permainan yang lain.
Anda yang hobi “SELFIE” jangan khawatir, pihak Progo Rafting sudah menyediakan tim fotographer khusus untuk membidik aksi anda. Pemandu akan memberikan aba-aba kapan harus berpose dan jeram mana yang paling bagus untuk berfoto, peserta hanya cukup menyiapkan senyum dan pose seheboh mungkin.
Selfie Arung Jeram
Walau tidak sebesar jeram Progo, ada sekitar 5 jeram di sungai Elo yang terbilang seru bagi pemula, dan ini bisa dibilang warming up atau pengenalan bagi peserta sebelum mencoba arung jeram di sungai Progo. Disini peserta juga dapat mempelajari bagaimana melepaskan perahu jika terjebak bebatuan mengarahkan perahu dan lainnya.  Disini dimungkinkan karena kondisi medan yang tergolong aman bagi pemula, dan peserta masih mendapat arahan dari pemandu secara santai.
Pada pertengahan perjalanan peserta dapat kesempatan istirahat, walau sepertinya tidak ada yang merasa capek. Sesi istirahat ini digunakan untuk kesempatarn bercengkrama antar peserta, tanya jawab,  foto-foto, serta menikmati Es kelapa muda dan makanan ringan di tepian sungai.
Setelah kemudian melewati beberapa jeram, sampailah peserta pada alur sungai yang menyempit. Peserta dianjurkan turun dari perahu dan mengikuti arus sungai dengan mengandalkan gaya mengapung. Jalur penghabisan ini cukup panjang dan mengasyikkan. Peserta seperti mengikuti alur waterboom, tapi kali ini di sungai.
Trip arung jeram kali Elo ini diakhiri ketika air sungai terasa dangkal dan peserta sudah tidak dapat hanyut lagi, pemandu menepikan perahu sebagai tanda akhir dari wisata air yang menyenangkan ini.
Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Salam hangat dari tanah Kedu!

Baca juga:
SUMBER: Magelang Online.com
Photo by Google

Jejak Meteor di Temanggung

Jejak Meteor di Temanggung


Monumen meteorit adalah salah satu objek wisata yang terletak di Desa Wonotirto, Kecamatan Bulu yang berada di kaki Gunung Sumbing. Monumen ini dibangun untuk mengingat peristiwa alam jatuhnya meteor di Desa Wonotirto pada hari Jumat tanggal 11 Mei 2001, sekitar pukul 09.00.

Saat itu, belasan warga sedang melakukan aktifitas di ladang tembakau, mereka dikejutkan dengan suara gemuruh disertai ledakan keras menyusul 2 buah benda jatuh dari langit. Setengah jam kemudian hal itu terjadi lagi, sebuah benda serupa jatuh di jalan dengan jarak 1 kilometer dari pemukiman penduduk. Ternyata benda tersebut adalah sebuah meteor sebesar kepalan tangan orang dewasa, setelah itu warga yang menyaksikan kejadian tersebut melaporkannya pada perangkat, sehingga laporan berlanjut ke pemerintahan kabupaten.


Untuk keperluan penelitian maka meteor tersebut dibawa ke Institut Sains dan Teknologi Akprind Yogyakarta. Peristiwa ini terjadi kembali setelah berselang 17 tahun pasca jatuhnya meteor di Desa Jumapolo Kabupaten Karanganyar pada tahun 1984. Menurut Rektor IST Akprind, Ir Sudarsono, MT, setiap tahun rata-rata ada 150 meteorit jatuh ke bumi, namun meteorit yang jatuh di Desa Wonotirto tersebut mempunyai catatan sejarah tidak seperti yang lain.

Setelah dilakukan penelitian, kemudian pemerintah daerah Temanggung memutuskan untuk membangun monumen tepat di lokasi jatuhnya meteor tersebut yang diresmikan tanggal 18 Februari 2002. Museum Rekor Indonesia ( MURI ) sendiri menempatkan monumen ini sebagai satu-satunya monumen tempat jatuhnya meteor di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.

Kini setelah sekian lama tersimpan di IST Akprind Yogyakarta, pada hari Senin 3 Mei 2010 batu meteor dikembalikan kepada Pemerintah Kabupaten Temanggung. Adapun serah terima dilakukan oleh Ir. Sudarsono, MT kepada Bupati Temanggung Drs. Hasyim Afandi. Usai menyerahkan meteor tersebut, rombongan dari IST Akprind diantar Wakil Bupati Temanggung, Budiarto, mengunjungi monumen meteorit.

Untuk sementara batu meteor tersebut disimpan di Kantor Bupati Temanggung , di komplek Kantor Setda Temanggung. Sebagai tindak lanjut, Dinas Kebudayaan dan Pariwitasa serta Dinas Pemuda dan Olahraga Temanggung akan menyusun rencana pemanfaatan meteorit tersebut untuk kepentingan wisata pendidikan. Dari sinilah muncul gagasan untuk membangun planetarium mini dan diusahakan agar gedung tersebut dapat dibangun sesuai dengan prinsip-prinsip planetarium yang ada dan meteorit dapat diletakkan secara permanen di dalamnya.

Monumen ini menjadi salah satu objek wisata yang menarik untuk dikunjungi, apalagi didukung dengan panorama alam yang indah, serta udara pegunungan yang sejuk dan menyegarkan ditambah dengan potensi agrowisata buah juga sayuran di sekitar lokasi dengan latar belakang Gunung Sumbing yang kokoh.


Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Salam hangat dari tanah Kedu!
SUMBER: WIKIPEDIA
Photo by Google

Alun-alun Terluas di Jawa Tengah

Alun-alun Terluas di Jawa Tengah
Pada jaman dahulu, alun-alun adalah simbol kejayaan sebuah wilayah, baik itu kerajaan, kadipaten ataupun kabupaten. Alun-alun Purworejo merupakan alun-alun kabupaten lama yang cukup luas. Bahkan, yang terluas di Jawa Tengah. Luas alun-alun Purworejo enam hektar atau 60.000 meter persegi dengan bentuk segi empat. Baik panjang maupun lebar ukuranya hampir sama.



Ciri khas pola tata kota Jawa Kuno selalu dengan jantung kota berupa sebuah alun-alun dan ditengahnya berdiri pohon beringin. Di tengah alun-alun Purworejo terdapat sepasang pohon beringin yang didatangkan dari Kraton Yogyakarta.
Alun-alun Purworejo dikelilingi oleh bangunan-bangunan penting semasa pemerintahan R. Cokronegoro I (bupati pertama Purworejo). Pendopo Kabupaten Purworejo berada di sebelah utara alun-alun menghadap selatan. Di sebelah selatan alun-alun ada Kantor Karesidenan bagelen yang kini menjadi Kantor Setda Purworejo. Sebelah barat alun-alun terdapat Masjid Agung Darul Muttaqin. Yang di dalam masjid tersebut terdapat Bedug Pendowo, bedug terbesar di dunia. Sementara sisi timur berdiri bangunan Gereja. Semua itu merupakan banguan penting yang sudah disusun sedemikian rupa oleh R. Cokronegoro I sebagai bupati pertama Purworejo.
Pada alun-alun sebelah utara terdapat dua bangunan kecil yang berfungsi sebagai tempat beristirahat bagi orang yang ingin menghadap bupati. Sekarang bangunan sebelah barat digunakan sebagai kantor KNPI dan sebelah timur untuk kantor KONI.
Tata kota Purworejo ini adalah pola tata Jawa Kuno. Sejak awal berdirinya Kabupaten Purworejo sampai sekarang, pola tata kotanya tidak mengalami perubahan. Pola tersebut mempunyai kekhususan yang sampai sekarang sulit dicari bandingannya. Semua tata letak bangunan semetris. Dan hingga sekarang bangunan-bangunan tersebut masih tegak berdiri dan difungsikan dengan baik.
Masih banyak peninggalan tata kota Purworejo kuno yang hingga kini masih terawat dan difungsikan dengan baik. Bangunan-bangunan yang kebanyakan peninggalan pemerintahan Belanda dengan arsitek khas Belandanya, tersebar di berbagai sudut kota Purworejo. Tentang bangunan-bangunan lain akan kita bahas di lain kesempatan di fan page Wisata Kedu ini.
Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!

Jumprit: Eksotisme Alam, Legenda, dan Kepercayaan

Jumprit, Pertemuan Eksotisme Alam, Legenda, dan Kepercayaan
Di dusun Jumprit, desa Tegalrejo, kecamatan Ngadirejo ada dua tempat yang juga tidak kalah menarik untuk dikunjungi yakni umbul Jumprit serta serta Hutan Pinus Jumprit. Umbul Jumprit merupakan sebuah sumber air dan hulu Sungai Progo. Tempat ini juga diyakini sebagai petilasan kerajaan Majapahit.
Setiap menjelang perayaan Waisak, para biksu akan mengambil air dari sumber ini untuk mengikuti perayaan di Candi Borobudur. Di sebelah barat Umbul Jumprit kita akan menemukan hutan pinus yang tidak kalah keren. Kedua tempat ini berada di lereng Gunung Sindoro.
Pada tanggal 18 Januari 1987, Pemerintah Kanupaten Temanggung menentapkan Jumprit sebagai Kawasan Wanawisata. Setahun kemudian, Kawasan itu diresmikan Gubernur Jawa Tengah (saat itu HM Ismail).
Nama Jumprit sudah disebutkan dalam serat Centini, terutama dikaitkan dengan legenda Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit. Ki Jumprit bukan hanya dikenal sakti mandraguna, tetapi juga salah seorang putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit. Dia meninggalkan kerajaan, agar bisa mengamalkan ilmu dan kesaktiannya kepada masyarakat luas. Perjalanan panjangnya berakhir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung. Beberapa tokoh masyarakat meyakini, Ki Jumprit adalah leluhur dari masyarakat Temanggung yang tersebar di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Namun hal ini masih memerlukan kajian mendalam, terutama dari aspek kesejarahan. Yang pasti ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai petilasan KI Jumprit. Makamnya pun berada tak jauh dari Umbul Jumprit. Dua lokasi inilah yang kerap dikunjungi peziarah, terutama komunitas tertentu yang terbiasa melakukan tirakat.
Wanawisata Jumprit, Eksotisme Alam
Wanawisata Jumprit merupakan salah salah satu obyek wisata yang eksotis di Kabupaten Temanggung. Tempat ini buka sekadar menawarkan wanawisata (wisata hutan) saja, tetapi juga menghadirkan objek wisata alam pegunungan yang indah. Awal keramaian obyek wisata ini terjadi sejak awal 1980-an, ketika banyak peziarah yang melakukan wisata spiritual di Makam Ki Jumprit di dekat Umbul Jumprit yang letaknya bersebelahan. Mereka bersemedi di sekitar makam, kemudian diakhiri mandi kungkum di mata air yang tak pernah kering. Kawasan ini berada di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut (dpl) dan berada di lereng Gunung Sindoro tempatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo. Jaraknya hanya sekitar 26 km dari barat laut kota Temanggung. Kawasan Jumprit berada di jalur strategis, yaitu jalur wisata Borobudur-Dieng, Semarang-Bandungan-Dieng, serta dari berbagai arah dengan kemudahan aksesibilitas, baik dari Wonosobo, Kendal, Maupun Yogyakarta. Perjalanan juga bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari ibu kota Kecamatan Ngadirejo. Lebih baik lagi menggunakan kendaraan pribadi. Jalan menuju lokasi sudah diaspal, sehingga perjalanan cukup menyenangkan. Apalagi dalam perjalanan menuju Jumprit, wisatawan juga bisa menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan agrowisata sayuran. Jika ingin menginap dikawasan ini juga tersedia wisma Perhutani atau bisa juga mendirikan tenda di bumi perkemahan. Wisatawan bisa menikmati udara segar dan indahnya pemandangan saat matahari terbit. Karena berada di lereng Sindoro, hawa ditempat ini cukup dingin. Airnya juga dingin, jernih dan menyegarkan. Wisatawan yang bermalam dianjurkan membawa jaket. Jika datang pada siang hari pun, pengunjung masih bisa merasakan sisa-sisa kesejukan saat memasuki kawasan hutan. Banyaknya belantara pepohonan dan letaknya yang berada di lereng Sindoro membuat hawa panas sepertinya enggan menyapa tempat tersebut. Wisatawan juga bisa bersau dengan sekawanan burung di alam bebas, yang akan selalu menyambut dengan ocehan yang saling bersahutan. Atau bertemu sekawanan kera liar (sekitar 25-30 ekor) di lokasi wanawisata. Konon populasi kera ini tidak pernah bertambah atau berkurang.
Sumber: kompasiana/aniefistianah & yukpiknik,com
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!
Salam hangat dari tanah Kedu!

Arca Emas dari Purworejo



Arca Emas dari Purworejo









Goa Seplawan adalah Goa alami yang terletak di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Goa Seplawan ini berada di ketinggian sekitar 700 mdpl. Goa ini terletak di pegunungan Menoreh yang membentang dari kecamatan Bagelen Purworrejo hingga kabupaten Magelangepatnya berada di desa Donorejo kecamatan Kaligesing, kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Selain menawarkan keindahan pesona alam bawah tanah, Goa Seplawan juga pemandangan alam pegunungan sejuk nan indah.
Memasuki kawasan wisata Goa Seplawan, hawa sejuk begitu terasa. Lokasi goa seplawan berada tak jauh dari area parkir, pengunjung cukup berjalan sebentar untuk menuju mulut goa. Sebelum memasuki Goa Seplawan, pengunjung akan disambut oleh patung besar replika arca emas Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Pada tahun 1979, bersamaan ditemukannya goa Seplawan kala itu, ditemukan pula sepasang arca atau patung emas. Kemudian berdasarkan identifikasi ahli sejarah arca tersebut merupakan patung Dewa Siwa dan Parwati. Saat ini patung tersebut disimpan di museum Nasional Jakarta dan sebagai tanda ditemukan benda bersejarah maka dibuat patung replika. Arca emas yang ditemukan di Goa Seplawan memiliki kadar emas 22 karat, dengan ukutan tinggi 9 cm dan berat 2,5 kg. Arca tersebut ditemukan pada 15 Agustus 1979  di salah satu sudut goa Seplawan.
Goa Seplawan mempunyai panjang kurang lebih sekitar 500 Meter. sedangkan cabang-cabang goa sekitar 150-300 meter. Sedangkan jalur yang khusus untuk para pengunjung sudah ada penerangan lampu sedangkan untuk cabang-cabang goa tidak dipasang lampu karena kondisinya yang berlumpur.
Lokasi obyek wisata Goa Seplawan sangat mudah di capai karena Akses jalan untuk kendaraan roda empat bisa mencapai lokasi dengan mudah. Dan juga sudah dilengkapi dengan fasilitas sarana dan prasana seperti tempat parkir kendaran, kamar mandi/WC, Mushola kecil yang sederhana, Gashebo, Gardu Pandang, Aula untuk Pementasan / Pertemuan dan juga ada taman-taman bunga yang indah.

Selain keindahan goa alam sendiri, pemandangan alam di kawasan juga sangat indah. Anda bisa melihat kota Jogja dari gardu pandang goa seplawan. Dari gardu Pandang bisa juga melihat waduk Sermo yang terletak di Kulonprogo. Bahkan jika naik kepuncak sisi kanan dari gardu Pandang, jika cuaca cerah  bisa menyaksikan 5 gunung sekaligus yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Slamet, gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Namun pemandangan 5 gunung ini kemungkinan akan terlihat lebih jelas dan indah saat matahari baru terbit.
Saat ini segmen pengunjung masih didominasi dari kalangan muda dan wisatawan domestik namun tak jarang juga mendapat kunjungan beberapa wisatawan manca negara,  walaupun saat ini lokasi Goa Seplawan memang belum memiliki penginapan,  jadi untuk sementara masih jarang yang menginap di sekitar Goa Seplawan kecuali yang berkemah disana.

Tidak sedikit orang yang datang ke Goa Seplawan untuk melakukan ritual Spiritual dengan melakukan meditasi di sana, seperti yang dituturkan bapak Ngudiyo ( mantan Lurah Donorejo ) bahwa sering sekali menerima tamu wisata yang memiliki hajat untuk melakukan Meditasi di lokasi Goa Seplawan.

Jangan percaya begitu saja dengan keindahan di sekitar goa Seplawan. Datang sendiri dan buktikan keindahan alam di sekitar Goa Seplawan.

Ayo berwisata ke daerah karesidenan Kedu! Wonosobo yang asri, Temanggung yang selalu bersenyum, Magelang dengan sejuta bunganya, Kebumen yang selalu beriman, dan Purworejo yang tetap berirama.
Disarikan dari pelbagai sumber
photo by: google
---------------------------------------
Ingin tahu lebih banyak lagi seputar wisata dan kuliner di karesidenan Kedu? Ikuti terus fan page Wisata Kedu! Dijamin keren!


Baca juga:









Featured Post

Taraveela, Bisnis Besar dari Purworejo

Taraveela, Bisnis Besar dari Purworejo Taraveela adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Travel & Tour. Yang melayani pemb...